BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat
telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan
(dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi
adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi
finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam
dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap
perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai
organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi
masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi
anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya
menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang
begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran
dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak
memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain
memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu
menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual.
Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan
di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki
karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul
produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas
penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru.
Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi
kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Artikel ini
secara khusus akan membahas perkembangan teknologi informasi untuk mendukung
manajemen rekam medis secara lebih efektif dan efisien. Tulisan ini akan
dimulai dengan berbagai contoh aplikasi teknologi informasi, faktor yang
mempengaruhi keberhasilan serta refleksi bagi komunitas rekam medis. Komputer
banyak berperan membantu di dunia kesehatan antara lain :
- adminstrasi
- obat-obatan
- penyakit → diagnostik, terapi, perawatan (monitoring status pasien)
- Penelitian
- adminstrasi
- obat-obatan
- penyakit → diagnostik, terapi, perawatan (monitoring status pasien)
- Penelitian
B. Rumusan
masalah
1. Apa
Peranan komputer dalam kesehatan?
2. Apakah
Pentingnya Teknologi informasi dalam rumah sakit?
3. Hal-hal
penting apa sajakah yang digunakan dalam penggunaan teknologi informasi secara
baik dan benar?
4. Aplikasi
teknologi informasi apa yang digunakan dalam untuk mendukung manajemen
informasi kesehatan?
5. Sebutkan
Faktor keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer?
6. Jelaskan Penerapan aplikasinya?
7. Bagaimana
Refleksi bagi komunitas rekam medis?
8. Sebutkan
Macam-macam sistem informasi rumah sakit ?
9. Jelaskan
Rancang bangun (Desain) sistim informasi
rumah sakit?
10. Bagaimana
Pengembangan sistem informasi rumah sakit?
11. Bagaimana
Manajemen informasi system/hospital?
12. Bagaimana
Diskusi dan korrdinasi para medis?
C.
Tujuan yang ingin dicapai
1. Dapat
mengetahui Peranan komputer dalam sektor kesehatan kesehatan
2. Dapat
mengetahui Pentingnya Teknologi informasi dalam rumah sakit s
3. Dapat
mengetahui Hal-hal penting dalam penggunaan teknologi informasi secara baik dan
benar serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari.
4. Dapat
Mengetahui Aplikasi teknologi informasi
yang dugunakan untuk mendukung manajemen informasi kesehatan agar dapat
bekerja secara efektif dan efisien.
5. Dapat
mengetahui Faktor keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer
6. Dapat
mengetahui cara Penerapan aplikasi dalam bidang sehari-hari
7. Dapat
mengetahui Refleksi bagi komunitas rekam medis
8. Dapat
mengetahui Macam-mcam sistem informasi rumah sakit
9. Dapat
mengetahui Rancang bangun (Desain) sistim informasi rumah sakit
10. Dapat
mengetahui Pengembangan sistem informasi rumah sakit
11. Dapat mengetahui Manajemen informasi
system/hospital
12. Dapat
mengetahui Diskusi dan korrdinasi para medis agar kiat dapat menerapakan pula
cara-cara tersebut pada kehidupan sehari hari
D. manfaat
penulisan
materi-materi
atau pembahasan ini memuat mengenai kurangnya pengetahuan dokter ataupun
perawat dibidang teknologi informasi yang berkembang saat ini padahal bila
dimanfaatkan pada orang-orang yang bersangkutan dibidang kesehatan dapat
mempermudah pekerjaan dan dapat menghasilkan sebuah hasil yang memuaskan dengan
aplikasi-aplikasi yang mendukung dibidang tersebut. Jadi manfaat yang dapat
diambil yaitu kita dapat mengetahui hal-hal yang belum kita tahu sebelumnya dan
juga makalah ini bisa menjadi bahan bacaan bagi para pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Peranan komputer dalam kesehatan
Pelayanan kesehatan berbasis teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) komputer, atau yang biasa disebut sebagai
e-Health, tengah mendapat banyak perhatian dunia. Terutama disebabkan oleh
janji dan peluang bahwa teknologi mampu meningkatkan kualitas kehidupan
manusia. Tulisan ini mencoba mengulas bagaimana sebenarnya e-Health tersebut
dan bagaimana implikasi teknologi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.
Pengertian e-Health sendiri secara luas dapat bermakna bidang pengetahuan baru yang merupakan persilangan dari informasi medis, kesehatan public, dan usaha, berkaitan dengan jasa pelayanan dan informasi kesehatan yang dipertukarkan atau ditingkatkan melalui saluran internet dan teknologi berkaitan dengannya (Gunter Eysenbach, J Med Internet Res 2001; 3(2): e20).
Dalam pengertian lebih luas, e-Health dapat diartikan sebagai tidak hanya pengembangan teknologi pelayanan kesehatan, namun juga mencakup pengembangan sikap, perilaku, komitmen, dan tata cara berpikir untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
Mengapa e-Health perlu dilaksanakan?
Di seluruh dunia, terjadi peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Banyak orang tidak mendapat kesempatan bagi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Catatan kesehatan yang masih mengandalkan dokumen kertas banyak menimbulkan kesalahan dan mengurangi produktivitas layanan.
Walau demikian, patut diakui terdapat juga kenaikan pelayanan kesehatan di masyarakat, yang memberikan peluang kehidupan yang lebih baik, namun juga berarti terdapatkan golongan masyarakat manula (manusia usia lanjut) yang lebih besar. Pada umumnya manula juga memerlukan layanan kesehatan yang lebih besar dibandingkan usia produktif.
Bagi pemerintah di tingkat lokal maupun pusat juga mendapat tantangan untuk menanggulangi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan. Selain itu, mereka juga bertanggungjawab terhadap pemantauan kesehatan umum dan kemungkinan penyebaran penyakit menular tertentu.
Mengembangkan layanan e-Health akan membantu pihak-pihak penyedia layanan kesehatan termasuk pemerintah untuk mencapai hal tersebut di atas. E-Health akan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk melakukan kolaborasi, pengumpulan dan analisa data kesehatan yang melampaui batasan fisik dan waktu.
Sebagai contoh, e-Health dapat diterapkan untuk membantu pemerintah mengembangkan program yang membantu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya saling bertukar infomasi secara elektronik, mengambil data rekam medis pasien kapan dan dimana diperlukan, dan melakukan kolaborasi dengan memberi layanan jasa kesehatan lainnya secara real time melalui internet. Layanan kesehatan seperti ini akan memberikan banyak sekali penghematan dari sisi biaya dokumen dan administrasi layanan dan memberikan keuntungan pemberian keputusan layanan kesehatan yang terbaik kepada pasien dengan lebih cepat.
Pemberi layanan jasa kesehatan, seperti dokter dan rumah sakit, juga dapat mengembangkan layanan jasa kesehatan berbasis internet. Program Dokter Keluarga yang tengah diperkenalkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya; berupaya untuk mengembangkan konsep dokter sebagai pengelola data kesehatan masyarakat. Tujuan program dokter keluarga adalah memberikan peranan lebih besar kepada dokter untuk menjaga kesehatan masyarakat, ketimbang untuk mengobati. Dengan memanfaatkan basis data kesehatan masyarakat yang dilayaninya, seorang dokter keluarga dapat menentukan program kesehatan apa yang paling tepat untuk masyakarat tersebut. Karena dengan melakukan analisa data kesehatan masyakarat, dapat diketahui pola dan kecenderungan penyakit yang mungkin terjadi dan dapat dilakukan analisa sebab dan akibat. Untuk itulah dalam program dokter keluarga, komputer dikatakan sebagai stetoskop kedua para dokter.
Data kesehatan masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil dapat dikumpulkan dan dianalisa menjadi data kesehatan masyarakat yang lebih luas untuk mencerminkan pola kesehatan secara regional maupun nasional.
Peranan komputer dalam mengelola dan melakukan pertukaran data kesehatan melalui internet menjadi sangat vital dalam menyelenggarakan e-Health. Karena data kesehatan tidak hanya berupa teks, bahkan bisa merupakan data gambar, suara, dan multimedia lainnya. Diperlukan komputer yang memiliki kemampuan proses yang tinggi untuk dapat mengolah data yang ada menjadi informasi yang berharga bagi suatu keputusan layanan kesehatan. Komputer dengan multi-inti dan ukuran cache yang besar, seperti yang berbasis pada prosesor Intel Core 2 Duo adalah antara lain yang disarankan sebagai komputer bagi penyedia jasa layanan kesehatan.
Pertukaran jasa layanan kesehatan melalui internet juga harus didukung oleh infrastruktur komunikasi pita lebar. Sekali lagi alasannya karena data yang dipertukarkan tidak hanya berupa teks, tetapi berupa data multimedia.
Pada akhirnya, pelayanan jasa kesehatan dengan TIK, atau e-Health memerlukan komitmen dari penyelenggara jasa kesehatan untuk melakukan modernisasi dari perangkat dan infrastruktur yang digunakannya. Dalam tahapan awal, memang hal tersebut akan merupakan investasi dari sisi biaya, namun dalam tahapan berkelanjutan, penerapan e-Health akan memberikan keuntungan dari penghematan biaya-biaya.
Pengertian e-Health sendiri secara luas dapat bermakna bidang pengetahuan baru yang merupakan persilangan dari informasi medis, kesehatan public, dan usaha, berkaitan dengan jasa pelayanan dan informasi kesehatan yang dipertukarkan atau ditingkatkan melalui saluran internet dan teknologi berkaitan dengannya (Gunter Eysenbach, J Med Internet Res 2001; 3(2): e20).
Dalam pengertian lebih luas, e-Health dapat diartikan sebagai tidak hanya pengembangan teknologi pelayanan kesehatan, namun juga mencakup pengembangan sikap, perilaku, komitmen, dan tata cara berpikir untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
Mengapa e-Health perlu dilaksanakan?
Di seluruh dunia, terjadi peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Banyak orang tidak mendapat kesempatan bagi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Catatan kesehatan yang masih mengandalkan dokumen kertas banyak menimbulkan kesalahan dan mengurangi produktivitas layanan.
Walau demikian, patut diakui terdapat juga kenaikan pelayanan kesehatan di masyarakat, yang memberikan peluang kehidupan yang lebih baik, namun juga berarti terdapatkan golongan masyarakat manula (manusia usia lanjut) yang lebih besar. Pada umumnya manula juga memerlukan layanan kesehatan yang lebih besar dibandingkan usia produktif.
Bagi pemerintah di tingkat lokal maupun pusat juga mendapat tantangan untuk menanggulangi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan. Selain itu, mereka juga bertanggungjawab terhadap pemantauan kesehatan umum dan kemungkinan penyebaran penyakit menular tertentu.
Mengembangkan layanan e-Health akan membantu pihak-pihak penyedia layanan kesehatan termasuk pemerintah untuk mencapai hal tersebut di atas. E-Health akan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk melakukan kolaborasi, pengumpulan dan analisa data kesehatan yang melampaui batasan fisik dan waktu.
Sebagai contoh, e-Health dapat diterapkan untuk membantu pemerintah mengembangkan program yang membantu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya saling bertukar infomasi secara elektronik, mengambil data rekam medis pasien kapan dan dimana diperlukan, dan melakukan kolaborasi dengan memberi layanan jasa kesehatan lainnya secara real time melalui internet. Layanan kesehatan seperti ini akan memberikan banyak sekali penghematan dari sisi biaya dokumen dan administrasi layanan dan memberikan keuntungan pemberian keputusan layanan kesehatan yang terbaik kepada pasien dengan lebih cepat.
Pemberi layanan jasa kesehatan, seperti dokter dan rumah sakit, juga dapat mengembangkan layanan jasa kesehatan berbasis internet. Program Dokter Keluarga yang tengah diperkenalkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya; berupaya untuk mengembangkan konsep dokter sebagai pengelola data kesehatan masyarakat. Tujuan program dokter keluarga adalah memberikan peranan lebih besar kepada dokter untuk menjaga kesehatan masyarakat, ketimbang untuk mengobati. Dengan memanfaatkan basis data kesehatan masyarakat yang dilayaninya, seorang dokter keluarga dapat menentukan program kesehatan apa yang paling tepat untuk masyakarat tersebut. Karena dengan melakukan analisa data kesehatan masyakarat, dapat diketahui pola dan kecenderungan penyakit yang mungkin terjadi dan dapat dilakukan analisa sebab dan akibat. Untuk itulah dalam program dokter keluarga, komputer dikatakan sebagai stetoskop kedua para dokter.
Data kesehatan masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil dapat dikumpulkan dan dianalisa menjadi data kesehatan masyarakat yang lebih luas untuk mencerminkan pola kesehatan secara regional maupun nasional.
Peranan komputer dalam mengelola dan melakukan pertukaran data kesehatan melalui internet menjadi sangat vital dalam menyelenggarakan e-Health. Karena data kesehatan tidak hanya berupa teks, bahkan bisa merupakan data gambar, suara, dan multimedia lainnya. Diperlukan komputer yang memiliki kemampuan proses yang tinggi untuk dapat mengolah data yang ada menjadi informasi yang berharga bagi suatu keputusan layanan kesehatan. Komputer dengan multi-inti dan ukuran cache yang besar, seperti yang berbasis pada prosesor Intel Core 2 Duo adalah antara lain yang disarankan sebagai komputer bagi penyedia jasa layanan kesehatan.
Pertukaran jasa layanan kesehatan melalui internet juga harus didukung oleh infrastruktur komunikasi pita lebar. Sekali lagi alasannya karena data yang dipertukarkan tidak hanya berupa teks, tetapi berupa data multimedia.
Pada akhirnya, pelayanan jasa kesehatan dengan TIK, atau e-Health memerlukan komitmen dari penyelenggara jasa kesehatan untuk melakukan modernisasi dari perangkat dan infrastruktur yang digunakannya. Dalam tahapan awal, memang hal tersebut akan merupakan investasi dari sisi biaya, namun dalam tahapan berkelanjutan, penerapan e-Health akan memberikan keuntungan dari penghematan biaya-biaya.
B.
Pentingnya Teknologi informasi
dalam rumah sakit
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan
salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian)
masalah derasnya arus informasi. Teknologi
informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen
informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat
(kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap
tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool
untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter
data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah
kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi
komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping
itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap
dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali
lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai
aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian
istimewa. Demikian Anis fuad dalam peran teknologi informasi untuk mendukung
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit
Ono.W.Purbo dalam telemedicine mengatakan teknologi
informasi hanyalah alat bantu yang membuat pekerjaan yang kita lakukan menjadi
lebih baik. Berbeda dengan teknologi yang konvensional kita kenal, maka
teknologi informasi mempunyai beberapa sifat yang mendasar dari sisi jenis
informasi yang dibawanya akan mempunyai spektrum yang lebar seperti:
Text
(MSWord, ASCII).
Audio (WAV,
MPEG-3).
Gambar
(JPEG, GIFF, TIFF).
Video (MPEG,
AVI)
Hal yang menjadikan teknologi informasi menarik terutama adalah kemampuan
untuk menjadikan proses / pekerjaan yang ada menjadi:
Interaktif.
Tidak
dibatasi dimensi ruang.
Tidak
dibatasi dimensi waktu.
Tidak dibatasi dimensi institusi / birokrasi.
C.
Hal-hal penting dalam penggunaan
teknologi informasi secara baik dan benar
·
Pengguna
Teknologi Informasi harus tahu secara jelas sekali apa yang diinginkan. Sering
sekali kita mendapatkan orang hanya ingin memasang jaringan komputer / IntraNet
tanpa tahu untuk apa IntraNet tersebut akan dipasang - contoh objective
misalnya: IntraNet akan digunakan untuk memberikan servis tambahan (misalnya
online payment, online diagnosis) diluar servis yang umumnya diberikan.
·
Pihak
management rumah sakit / PUSKESMAS harus menyadari bahwa teknologi informasi
hanyalah alat bantu. Operasi alat bantu ini sangat tergantung sekali pada
kualitas SDM yang ada di rumah sakit - siapa yang akan mengisi informasi? siapa
yang akan melakukan diagnosis? dll.
Teknologi informasi akan memudahkan kerjasama dengan berbagai fihak baik
membuka client ke rumah-rumah secara langsung, maupun ke PUSKESMAS sekitar
sekiranya pasien mereka membutuhkan bantuan secara cepat & interaktif.
D.
Aplikasi teknologi informasi untuk
mendukung manajemen informasi kesehatan
Secara umum masyarakat mengenal
produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan
infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor,
touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader,
maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini
bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar
dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras
pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori
komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem
komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat
juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun
portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat outuput
yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor,
printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya.
Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem
operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup
matinya komputer, menhubungkan media input dan output serta mengendalikan
berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utiliti di komputer. Sedangkan
perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu
pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat
presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga
program utility yang membantu sistem operasi dalam pengelolaan fungsi tertentu
seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain.
Pada aspek infrastruktur, kita mengenal ada istilah
jaringan komputer baik yang bersifat terbatas dan dalam kawasan tertentu
(misalnya satu gedung) yang dikenal dengan nama Local Area Network maupun
jaringan yang lebih luas, bahkan bisa meliputi satu kabupaten atau negara atau
yang dikenal sebagai Wide Area Network (WAN). Saat ini, aspek infrastruktur
dalam teknologi informasi seringkali disatukan dengan perkembangan teknologi
komunikasi. Sehingga muncul istilah konvergensi teknologi informasi dan
komunikasi. Perangkat PDA (personal digital assistant) yang berperan sebagai
komputer genggam tetapi sarat dengan fungsi komunikasi (baik Wi-Fi, bluetooth
maupun GSM) merupakan salah satu contoh diantaranya.
Perangkat keras (baik input, pemroses, penyimpan,
maupun output), perangkat lunak serta infrastruktur, ketiga-tiganya memiliki
potensi besar untuk meningkatkan efektivitas maupun efisiensi manajemen
informasi kesehatan. Beberapa contoh penting yang akan diulas adalah (1)rekam
medis berbasis komputer, (2) teknologi penyimpan portabel seperti smart
card,(3) teknologi nirkabel dan (4) komputer genggam.
B.1. Rekam medis berbasis komputer (Computer based patient record)
Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya.
Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi dapat mematuhi protokol klinik.
Gambar 1. Alert tentang permintaan lab yang berlebihan dalam salah satu model aplikasi rekam medis berbasis komputer
Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Intitute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya.
Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosisi (EKG, radiologi, dll), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi dapat mematuhi protokol klinik.
Gambar 1. Alert tentang permintaan lab yang berlebihan dalam salah satu model aplikasi rekam medis berbasis komputer
B.2. Teknologi penyimpan data portable
Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time.
Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya. Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Beberapa pendekatan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi adalah penggunaan smart card (kartu cerdas yang memungkinkan penyimpanan data sementara). Smart card sudah digunakan di beberapa negara Eropa maupun AS sehingga memudahkan pasien, dokter maupun pihak asuransi kesehatan. Dalam smart card tersebut, selain data demografis, beberapa data diagnosisi terakhir juga akan tercatat. Teknologi penyimpan portabel lainnya adalah model web based electronic health record yang memungkinkan pasien menyimpan data sementara kesehatan mereka di Internet. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time.
Aplikasi penyimpan data portabel sederhana adalah bar code (atau kode
batang). Kode batang ini sudah jamak digunakan di kalangan industri sebagai
penanda unik merek datang tertentu. Hal ini jelas sekali mempermudah
supermarket dan gudang dalam manajemen retail dan inventori. Food and Drug
Administration (FDA) di AS telah mew
ajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.
ajibkan seluruh pabrik obat di AS untuk menggunakan barcode sebagai penanda obat. Penggunaan bar code juga akan bermanfaat bagi apotik dan instalasi farmasi di rumah sakit dalam mempercepat proses inventori. Selain itu, penggunaan barcode juga dapat digunakan sebagai penanda unik pada kartu dan rekam medis pasien.
Teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer adalah RFID (radio
frequency identifier) yang memungkinkan pengidentifikasikan identitas melalui
radio frekuensi. Jika menggunakan barcode, rumah sakit masih memerlukan barcode
reader, maka penggunaan RFID akan mengeliminasi penggunaan alat tersebut.
Setiap barang (misalnya obat ataupun berkas rekam medis) yang disertai dengan
RFID akan mengirimkan sinyal terus menerus ke dalam database komputer. Sehingga
pengidentifikasian akan berjalan secara otomatis.
B. 3. Teknologi nirkabel
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.
Pemanfaatan jaringan computer dalam dunia medis sebenarnya sudah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Pada tahun 1976/1977, University of Vermon Hospital dan Walter Reed Army Hospital mengembangkan local area network (LAN) yang memungkinkan pengguna dapat log on ke berbagai komputer dari satu terminal di nursing station. Saat itu, media yang digunakan masih berupa kabel koaxial. Saat ini, jaringan nir kabel menjadi primadona karena pengguna tetap tersambung ke dalam jaringan tanpa terhambat mobilitasnya oleh kabel. Melalui jaringan nir kabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggun mobilitasnya.
B. 4. Komputer genggam (Personal Digital Assistant)
Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan feedback kepada rumah sakit.
Saat ini, penggunaan komputer genggam (PDA) menjadi hal yang semakin lumrah di kalangan medis. Di Kanada, limapuluh persen dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. PDA dapat digunakan untuk menyimpan berbagai data klinis pasien, informasi obat, maupun panduan terapi/penanganan klinis tertentu. Beberapa situs di Internet memberikan contoh aplikasi klinis yang dapta digunakan di PDA seperti epocrates. Pemanfaatan PDA yang sudah disertai dengan jaringan telepon memungkinkan dokter tetap dapat memiliki akses terhadap database pasien di rumahs akit melalui jaringan Internet. Salah satu contoh penerapan teknologi telemedicine adalah pengiriman data radiologis pasien yang dapat dikirimkan secara langsung melalui jaringan GSM. Selanjutnya dokter dapat memberikan interpretasinya secara langsung PDA dan memberikan feedback kepada rumah sakit.
E. Faktor keberhasilan
penerapan rekam medis berbasis komputer
Memang, hingga saat ini
tidak ada satu rumah sakit di dunia yang dapat menerapkan konsep rekam medis
elektronik yang ideal. Namun demikian, beberapa penelitian melaporkan
karakteristik dan pengalaman rumah sakit dalam menerapkan rekam medis
elektronik. Doolan, Bates dan James mempublikasikan
suatu studi tentang keberhasilan penerapan 5 rumah sakit utama di AS yang
menerapkan rekam medis berbasis komputer dan mendapatkan penghargaan
Computer-Based Patient Record Institute Davies’ Award. Kelimanya adalah :
1. LDS Hospital, Salt Lake City (LDSH) pada 1995
2. Wishard Memorial Hospital, Indianapolis (WMH) tahun 1997
3. Brigham and Women’s Hospital, Boston (BWH) tahun 1996
4. Queen’s Medical Center, Honolulu (QMC) in1999
5. Veteran’s Affairs Puget Sound Healthcare System, Seattle and Tacoma (VAPS) tahun 2000
1. LDS Hospital, Salt Lake City (LDSH) pada 1995
2. Wishard Memorial Hospital, Indianapolis (WMH) tahun 1997
3. Brigham and Women’s Hospital, Boston (BWH) tahun 1996
4. Queen’s Medical Center, Honolulu (QMC) in1999
5. Veteran’s Affairs Puget Sound Healthcare System, Seattle and Tacoma (VAPS) tahun 2000
Kelima rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pendidikan dengan jumlah
tempat tidur bervariasi (dari 246-712 TT). Berdasarkan kepemilikan, 3
diantaranya merupakan rumah sakit swasta non profit (no 1, 3 dan 4), 1
merupakan rumah sakit daerah (nomer 2) dan 1 rumah sakit tentara (nomer 5).
Rekam medis elektronis telah diterapkan untuk mendukung pelayanan rawat inap, rawat jalan maupun rawat darurat. Berbagai hasil pemeriksaan laboratoris baik berupa teks, angka maupun gambar (seperti patologi, radiologi, kedokteran nuklir, kardiologi sampai ke neurologi sudah tersedia dalam format elektronik. Disamping itu, catatan klinis pasien yang ditemukan oleh dokter maupun perawat juga telah dimasukkan ke alam komputer baik secara langsung (dalam bentuk teks bebas atau terkode) maupun menggunakan dictation system. Sedangkan pada bagian rawat intensif, komputer akan mengcapture data secara langsung dari berbagai monitor dan peralatan elektronik. Sistem pendukung keputusan (SPK) juga sudah diterapkan untuk membantu dokter dan perawat dalam menentukan diagnosis, pemberitahuan riwayat alergi, pemilihan obat serta mematuhi protokol klinik. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis serta memberikan instruksi klinis. Namun demikian, bukan berarti kertas tidak digunakan. Dokter masih menggunakannya untuk mencetak ringkasan data klinis pasien rawat inap sewaktu melakukan visit. Di bagian rawat jalan, ringkasan klinis tersebut dicetak oleh staf administratif terlebih dahulu.
Rekam medis elektronis telah diterapkan untuk mendukung pelayanan rawat inap, rawat jalan maupun rawat darurat. Berbagai hasil pemeriksaan laboratoris baik berupa teks, angka maupun gambar (seperti patologi, radiologi, kedokteran nuklir, kardiologi sampai ke neurologi sudah tersedia dalam format elektronik. Disamping itu, catatan klinis pasien yang ditemukan oleh dokter maupun perawat juga telah dimasukkan ke alam komputer baik secara langsung (dalam bentuk teks bebas atau terkode) maupun menggunakan dictation system. Sedangkan pada bagian rawat intensif, komputer akan mengcapture data secara langsung dari berbagai monitor dan peralatan elektronik. Sistem pendukung keputusan (SPK) juga sudah diterapkan untuk membantu dokter dan perawat dalam menentukan diagnosis, pemberitahuan riwayat alergi, pemilihan obat serta mematuhi protokol klinik. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis serta memberikan instruksi klinis. Namun demikian, bukan berarti kertas tidak digunakan. Dokter masih menggunakannya untuk mencetak ringkasan data klinis pasien rawat inap sewaktu melakukan visit. Di bagian rawat jalan, ringkasan klinis tersebut dicetak oleh staf administratif terlebih dahulu.
Meskipun menggunakan pendekatan, jenis aplikasi serta pengalaman yang
berbeda-beda, namun secara umum ada kesamaan faktor yang faktor yang menentukan
keberhasilan mereka dalam menerapkan rekam medis berbasis komputer, yaitu:
Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.
Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.
Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Di kelima rumah sakit tersebut, berbagai upaya dilakukan, baik formal maupun non formal untuk melibatkan dokter dan dalam perancangan dan modifikasi sistem. Dokter, perawat maupun tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman informatik dilibatkan sebagai penghubung antara klinisi dan sistem informasi. Hal ini terutama sangat penting dalam merancangn sistem pendukung keputusan klinis. Salah satu manajer IT mengatakan bahwa “We had over 530 people involved, and doctors hired to help us design screens and everything. The doctors were very much part of the effort.”
Menjaga dan meningkatkan produktivitas klinis
Meskipun diakui bahwa penggunaan komputer menambah beban bagi dokter, tetapi rumah sakit menyediakan fasilitas yang sangat mendukung. Jaringan nir kabel disediakan agar dokter tetap dapat mengakses data secara mobile. Demikian juga, fasilitas Internet memungkinkan mereka memantau perkembangan pasien dari rumah. Komputer juga tersedia secara merata, untuk rawat jalan perbandingan tempat tidur dengan komputer antara 1:3-5, bahkan di LDS 1:1. Sedangkan di unit rawat jalan 1 ruang 1 komputer.
Menjaga momentum dan dukungan terhadap klinisi.
Salah satu dokter mengatakan bahwa “..We demonstrated and talked about it and evangelized the clinical staff that this was something good, something sexy, high tech and innovative and it was going to be expected to be utilized.” Karena kesemuanya adalah rumah sakit pendidikan, setiap residen diharuskan menggunakan komputer untuk mencatat perkembangan pasien. Akan tetapi, memelihara momentum agar dokter dapat menggunakan komputer secara langsung bervariasi, dari 3 tahunan hingga satu dekade.
Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.
Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.
Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Di kelima rumah sakit tersebut, berbagai upaya dilakukan, baik formal maupun non formal untuk melibatkan dokter dan dalam perancangan dan modifikasi sistem. Dokter, perawat maupun tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman informatik dilibatkan sebagai penghubung antara klinisi dan sistem informasi. Hal ini terutama sangat penting dalam merancangn sistem pendukung keputusan klinis. Salah satu manajer IT mengatakan bahwa “We had over 530 people involved, and doctors hired to help us design screens and everything. The doctors were very much part of the effort.”
Menjaga dan meningkatkan produktivitas klinis
Meskipun diakui bahwa penggunaan komputer menambah beban bagi dokter, tetapi rumah sakit menyediakan fasilitas yang sangat mendukung. Jaringan nir kabel disediakan agar dokter tetap dapat mengakses data secara mobile. Demikian juga, fasilitas Internet memungkinkan mereka memantau perkembangan pasien dari rumah. Komputer juga tersedia secara merata, untuk rawat jalan perbandingan tempat tidur dengan komputer antara 1:3-5, bahkan di LDS 1:1. Sedangkan di unit rawat jalan 1 ruang 1 komputer.
Menjaga momentum dan dukungan terhadap klinisi.
Salah satu dokter mengatakan bahwa “..We demonstrated and talked about it and evangelized the clinical staff that this was something good, something sexy, high tech and innovative and it was going to be expected to be utilized.” Karena kesemuanya adalah rumah sakit pendidikan, setiap residen diharuskan menggunakan komputer untuk mencatat perkembangan pasien. Akan tetapi, memelihara momentum agar dokter dapat menggunakan komputer secara langsung bervariasi, dari 3 tahunan hingga satu dekade.
Pengalaman di atas mengungkapkan bahwa penerapan IT untuk rekam medis
merupakan effort yang luar biasa yang tercermin mulai dari leadership pimpinan,
komitmen finansial dan SDM, tujuan organisasi, proses perancangan yang
melelahkan, networking antara tenaga medis, non medis dan informatik hingga
menjaga momentum.
F,
penerapan aplikasi
Bagaimana memilih dan
menerapkan aplikasi teknologi informasi untuk manajemen kesehatan di rumah
sakit?
Ini merupakan pertanyaan krusial yang harus dijawab. Melihat pada pengalaman di atas, kita harus mengembalikan kepada komitmen, visi dan leadership dari organisasi. Apakah ini hanya karena ikut-ikutan atau memang sudah tertuang dalam rencana stratejik rumah sakit? Selain itu, bagaimana implikasi biaya dan sumber daya manusia? Bagaimana menjalin kerjasama antar berbagai komponen di rumah sakit, baik tenaga medis maupun non medis?
Ini merupakan pertanyaan krusial yang harus dijawab. Melihat pada pengalaman di atas, kita harus mengembalikan kepada komitmen, visi dan leadership dari organisasi. Apakah ini hanya karena ikut-ikutan atau memang sudah tertuang dalam rencana stratejik rumah sakit? Selain itu, bagaimana implikasi biaya dan sumber daya manusia? Bagaimana menjalin kerjasama antar berbagai komponen di rumah sakit, baik tenaga medis maupun non medis?
Jika pertanyaan tersebut sudah dijawab, kita dapat memilih aplikasi yang
sesuai dengan kemampuan organisasi. Langkah yang paling penting adalah
pengembangan sistem informasi transaksional (data administratif dan klinis
sederhana). Selanjutnya, pengembangan level kedua, yaitu sistem informasi
manajemen dan sistem sistem informasi eksekutif(sistem pendukung keputusan)
dapat dilakukan kemudian. Aplikasi SMS sebagai reminder bagi ibu hamil untuk
memeriksakan secara tepat waktu juga meruapakan salah satu model SPK bagi
pasien. Demikian juga model serupa agar jadwal imunisasi bagi balita tidak
terlambat. Investasi yang diperlukan cukup dengan komputer yang telah diisi dengan
database klinik pasien, nomer HP serta rule mengenai penjadwalan imunisasi.
Penerapan jaringan wireless saat ini juga bukan investasi yang mahal. Dan masih
seabreg inovasi lain yang dapat dikembangkan.
Dari konteks teknologi informasi dan komunikasi, dapat dikatakan bahwa
pelbagai aplikasi sangat potensial sekali diterapkan di dunia medis. Akan
tetapi kita harus memperhatikan bahwa hingga saat ini secara kultural, dunia
medis, termasuk yang sudah menerapkan infrastruktur elektronik secara canggih sebagian
besar transaksi informasi klinis masih berjalan secara face to face. Sehingga tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa
keberhasilan sistem informasi di rumah sakit 90% merupakan masalah sosial
kultural dan hanya 10% saja yang merupakan masalah informatika.\
G. Refleksi bagi
komunitas rekam medis
Mengingat pesatnya perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi yang cukup pesat, komunitas rekam medis perlu memahami berbagai
konsep serta aplikasi medical informatics (informatika kedokteran). Informatika
kedokteran (kadang disebut juga informatika kesehatan) adalah disiplin yang
terlibat erat dengan komputer dan komunikasi serta pemanfaatannya di lingkungan
kedokteran dikenal sebagai informatika kedokteran (medical informatics). Dalam pengertian yang lebih rinci, Shortliffe
mendefinisikan informatika kedokteran sebagai berikut: “Disiplin ilmu yang
berkembang dengan cepat yang berurusan dengan penyimpanan, penarikan dan
penggunaan data, informasi, serta pengetahuan (knowledge) biomedik secara
optimal untuk tujuan problem solving dan pengambilan keputusan. Oleh karena
itu, informatika kedokteran bersentuhan dengan semua ilmu dasar dan terapan
dalam kedokteran dan terkait sangat erat dengan teknologi informasi modern,
yaitu komputer dan komunikasi. Kehadiran informatika kedokteran sebagai
disiplin baru yang terutama disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi
komunikasi dan komputer, menimbulkan kesadaran bahwa pengetahuan kedokteran
secara esensial tidak akan mampu terkelola (unmanageable) oleh metode berbasis
kertas (paper-based methods).”. Lingkup kajian
informatika kedokteran meliputi teori dan terapan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa informatika kedokteran merupakan
disiplin ilmu tersendiri.
Secara terapan, aplikasi informatika kedokteran meliputi rekam medik
elektronik, sistem pendukung keputusan medik, sistem penarikan informasi
kedokteran, hingga pemanfaatan internet dan intranet untuk sektor kesehatan,
termasuk merangkaikan sistem informasi klinik dengan penelusuran bibliografi
berbasis internet. Dengan demikian, komunitas rekam
medis akan memiliki wawasan yang luas mengenai prospek teknologi informasi
serta mampu menjembatani klinisi (pengguna dan penyedia utama informasi
kesehatan) dengan para ahli komputer (informatika) yang bertujuan merancang
desain aplikasi dan sistem agar dapat menghasilkan produk aplikasi manajemen
informasi kesehatan di rumah sakit yang lebih efektif dan efisien.
H. Macam-macam
sistem informasi rumah sakit
Sistem informasi rumah sakit tidak
dapat lepas kaitannya dengan sistem informasi kesehatan karena sistem ini
merupakan aplikasi dari sistem informasi kesehatan itu sendiri. Untuk itu,
perlu kita mengetahui sedikit tentang sistem informasi rumah sakit yang ada di
Indonesia, mulai dari rancang bangun (desain) sistem informasi rumah sakit
hingga pengembangannya.
1. Rancang Bangun (desain) Sistem Informasi Rumah Sakit
2. Pengembangan
Sistem Informasi Rumah Sakit
I. Rancang
bangun (Desain) sistim informasi rumah
sakit
Rancang Bangun Rumah Sakit (SIRS),
sangat bergantung kepada jenis dari rumah sakit tersebut. Rumah sakit di
Indonesia, berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi 2, sebagai berikut:
a. Rumah Sakit Pemerintah, Sifat
rumah sakit ini adalah tidak mencari keuntungan (non profit) yang dikelola
oleh:
1) Departemen
Kesehatan,
2) Departemen
Dalam Negeri,
3) TNI,
4) BUMN.
b. Rumah Sakit Swasta, yang dimiliki
dan dikelola oleh sebuah yayasan, baik yang sifatnya tidak mencari keuntungan
(non profit) maupun yang memang mencari keuntungan (profit)
Berdasarkan sifat layanannya rumah
sakit dibagi 2, sebagai berikut:
a. Rumah Sakit
Umum
Untuk Rumah Sakit Pemerintah, Rumah
Sakit Umum digolongkan menjadi 4 tingkatan, sebagai berikut:
1) Rumah Sakit
Umum tipe A, rumah sakit umum yang memberikan layanan medis spesialistik dan
subspesialistik yang luas.
2) Rumah Sakit
Umum tipe B, rumah sakit umum yang memberikan layanan medis spesialistik dan
subspesialistik yang terbatas.
3) Rumah Sakit
Umum tipe C, rumah sakit umum yang memberikan layanan medis spesialistik yang
terbatas, seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan anak.
4) Rumah Sakit
Umum tipe D, rumah sakit umum yang memberikan layanan medis dasar.
Untuk Rumah Sakit Swasta, Rumah
Sakit Umum digolongkan menjadi
3 tingkatan sebagai berikut:
3 tingkatan sebagai berikut:
1) Rumah Sakit
Umum Pratama, rumah sakit umum yang
memberikan layanan medis umum,
memberikan layanan medis umum,
2) Rumah Sakit
Umum Madya, rumah sakit umum yang memberikan
layanan medis spesialistik,
layanan medis spesialistik,
3) Rumah Sakit
Umum Utama, rumah sakit umum yang memberikan
layanan medis spesialistik dan subspesialisitik.
layanan medis spesialistik dan subspesialisitik.
b. Rumah Sakit
Khusus
Rumah sakit khusus ini banyak sekali
ragamnya, rumah sakit ini melakukan penanganan untuk satu atau beberapa
penyakit tertentu dan layanan medis subspesialistik tertentu. Yang masuk dalam
kelompok ini diantaranya: Rumah Sakit Karantina, Rumah Sakit Bersalin, dsb.
Dari Keputusan Menteri Kesehatan No.
983 tahun 1992, dapat diketahui bahwa organsasi rumah sakit secara umum adalah
organisasi matriks. Semua staf yang ada, dibagi ke dalam divisi-divisi yang ada
dalam struktur organisasi rumah sakit tersebut, sedangkan setiap tenaga medis
tersebut juga dikelompokkan ke dalam kelompok fungsional menurut profesinya
masing-masing dan setiap kelompok fungsional dipimpin oleh seorang ketua
kelompok.
Organisasi matriks adalah organisasi
yang paling dinamis dan paling baik, jika dibandingkan dengan tipe organisasi
lainnya, namun harus disadari sepenuhnya bahwa setiap staf dalam organisasi
tersebut mempunyai 2 pimpinan sekaligus yang memberikan perintah dan pengarahan
kepada yang bersangkutan, yaitu pimpinan divisi dan pimpinan kelompok. Oleh
karena itu, setiap staf pada organisasi matriks harus mampu bekerjasama lintas
divisi, mampu berkomunikasi dengan baik dengan ke 2 pimpinannya dan mampu
membagi pekerjaannya berdasarkan prioritas.
Organisasi matriks memang sangat
memerlukan dukungan teknologi infomasi/komputer dalam melaksanakan fungsi dan
tugasnya. Namun agar teknologi informasi dapat memberikan dukungan yang
maksimal, maka panataan pola kerja organisasi tersebut merupakan prasyarat
utama.
Untuk menyusun SIRS digunakan 4 pertanyaan sederhana
sebagai berikut:
1) Apa fungsi/tugas utama dari rumah sakit ? Jawaban pada umumnya adalah layanan kesehatan
2) Apa objek/sasaran dari fungsi/tugas utama rumah sakit ? Jawaban pada
umumnya adalah pasien/penderita
3) Dukungan operasional apa saja yang diperlukan oleh rumah sakit ?
1) Apa fungsi/tugas utama dari rumah sakit ? Jawaban pada umumnya adalah layanan kesehatan
2) Apa objek/sasaran dari fungsi/tugas utama rumah sakit ? Jawaban pada
umumnya adalah pasien/penderita
3) Dukungan operasional apa saja yang diperlukan oleh rumah sakit ?
Jawaban pada
umumnya adalah tenaga kerja, keuangan dan
sarana/prasaran
4) Sistem apa yang dibutuhkan untuk mengelola rumah sakit tersebut ?
Jawaban pada umumnya adalah manajemen rumah sakit.
sarana/prasaran
4) Sistem apa yang dibutuhkan untuk mengelola rumah sakit tersebut ?
Jawaban pada umumnya adalah manajemen rumah sakit.
Berdasarkan jawaban tersebut, maka SIRS terdiri dari:
a.Subsistem Layanan Kesehatan, yang mengelola kegiatan
layanan kesehatan.
b. Subsistem
Rekam Medis, yang mengelola data pasien.
c. Subsistem
Personalia, yang mengelola data maupun aktivitas tenaga medis maupun tenaga
administratif rumah sakit.
d. Subsistem
Keuangan, yang mengelola data-data dan transaksi keuangan.
e. Subsistem
Sarana/Prasarana, yang mengelola sarana dan prasarana yang ada di dalam rumah
sakit tersebut, termasuk peralatan medis, persediaan obat-obatan dan bahan
habis pakai lainnya.
f. Subsistem
Manajemen Rumah Sakit, yang mengelola aktivitas yang ada didalam rumah sakit
tersebut, termasuk pengelolaan data untuk perencaan jangka panjang,
jangka pendek, pengambilan keputusan dan untuk layanan pihak luar.
Ke 6
subsistem tersebut diatas kemudian harus dijabarkan lagi ke dalam modul-modul
yang sifatnya lebih spesifik. Subsistem Layanan Kesehatan dapat dijabarkan
lebih lanjut menjadi:
a) Modul Rawat
Jalan, yang mengelola data-data dan aktivitas layanan
medis rawat jalan.
medis rawat jalan.
b) Modul Rawat
Inap, yang mengelola data-data dan aktivitas layanan
medis rawat inap.
medis rawat inap.
c)
Modul
Layanan Penunjang Medis, termasuk didalamnya tindakan
medis, pemeriksaan laboratorium, dsb.
medis, pemeriksaan laboratorium, dsb.
J. Pengembangan
sistem informasi rumah sakit
Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah
bertumpu dalam 2 hal penting yaitu “kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS”
dan “sasaran pengembangan SIRS” tersebut. Adapun kriteria dan kebijakan yang
umumnya dipergunakan dalam penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai berikut:
a. SIRS harus
dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional dalam
memberikan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.
b. SIRS harus
mampu mengaitkan dan mengintegrasikan seluruh arus informasi dalam jajaran
Rumah Sakit dalam suatu sistem yang terpadu.
c. SIRS dapat
menunjang proses pengambilan keputusan dalam proses perencanaan maupun
pengambilan keputusan operasional pada berbagai tingkatan.
d. SIRS yang
dikembangkan harus dapat meningkatkan daya-guna dan hasil-guna terhadap
usaha-usaha pengembangan sistem informasi rumah sakit yang telah ada maupun
yang sedang dikembangkan.
e. SIRS yang
dikembangkan harus mempunyai kemampuan beradaptasi
terhadap perubahan dan perkembangan dimasa datang.
terhadap perubahan dan perkembangan dimasa datang.
f. Usaha
pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan terpadu
dengan biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan
hasil dan manfaat yang berarti (rate of return) dalam waktu yang
relatif singkat.
dengan biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi pula dengan
hasil dan manfaat yang berarti (rate of return) dalam waktu yang
relatif singkat.
g. SIRS yang
dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini
mungkin.
mungkin.
h. Pentahapan
pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan keadaan
masing-masing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas.
masing-masing subsistem serta sesuai dengan kriteria dan prioritas.
i. SIRS yang
dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas,
bahkan bagi petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi
komputer (user friendly).
bahkan bagi petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi
komputer (user friendly).
j. SIRS yang
dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal
mungkin perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS
di Indonesia, untuk melakukan adaptasi dengan sistem yang baru.
mungkin perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna SIRS
di Indonesia, untuk melakukan adaptasi dengan sistem yang baru.
k. Pengembangan diarahkan pada
subsistem yang mempunyai dampak yang kuat terhadap pengembangan SIRS. Atas
dasar dari penetapan kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS tersebut di atas,
selanjutnya ditetapkan sasaran pengembangan sebagai penjabaran dari Sasaran
Jangka Pendek Pengembangan SIRS, sebagai berikut:
1) Memiliki
aspek pengawasan terpadu, baik yang bersifat pemeriksaan
tau pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggungjawaban
penggunaan dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan
rumah sakit.
tau pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggungjawaban
penggunaan dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan
rumah sakit.
2) Terbentuknya
sistem pelaporan yang sederhana dan mudah
dilaksanakan, akan tetapi cukup lengkap dan terpadu.
dilaksanakan, akan tetapi cukup lengkap dan terpadu.
3) Terbentuknya
suatu sistem informasi yang dapat memberikan
dukungan akan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu melalui
dukungan data yang bersifat dinamis.
dukungan akan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu melalui
dukungan data yang bersifat dinamis.
4) Meningkatkan
daya-guna dan hasil-guna seluruh unit organisasi
dengan menekan pemborosan.
dengan menekan pemborosan.
5) Terjaminnya
konsistensi data.
6) Orientasi ke
masa depan.
7)
Pendayagunaan
terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi yang telah ada maupun sedang
dikembangkan, agar dapat terus dikembangkan dengan mempertimbangkan
integrasinya sesuai Rancangan Global SIRS. SIRS merupakan suatu sistem
informasi yang, cakupannya luas (terutama untuk rumah sakit tipe A dan B) dan
mempunyai kompleksitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu penerapan sistem yang
dirancang harus dilakukan dengan memilih pentahapan yang sesuai dengan kondisi
masing-masing subsistem, atas dasar kriteria dan prioritas yang ditentukan.
Kesinambungan
antara tahapan yang satu dengan tahapan berikutnya harus
tetap terjaga. Secara garis besar tahapan pengembangan SIRS adalah sebagai berikut:
tetap terjaga. Secara garis besar tahapan pengembangan SIRS adalah sebagai berikut:
a) Penyusunan
Rencana Induk Pengembangan SIRS,
b) Penyusunan
Rancangan Global SIRS,
c) Penyusunan
Rancangan Detail/Rinci SIRS,
d) Pembuatan
Prototipe, terutama untuk aplikasi yang sangat spesifik,
e) Implementasi,
dalam arti pembuatan aplikasi, pemilihan dan pengadaan perangkat keras maupun
perangkat lunak pendukung.
f)
Operasionalisasi
dan Pemantapan.
Sistem Informasi Rumah Sakit yang
berbasis komputer (Computer Based Hospital Information System) memang sangat
diperlukan untuk sebuah rumah sakit dalam era globalisasi, namun untuk
membangun sistem informasi yang terpadu memerlukan tenaga dan biaya yang cukup
besar. Kebutuhan akan tenaga dan biaya yang besar tidak hanya dalam
pengembangannya, namun juga dalam pemeliharaan SIRS maupun dalam melakukan
migrasi dari system yang lama pada sistem yang baru. Selama manajemen rumah
sakit belum menganggap bahwa informasi adalah merupakan aset dari rumah sakit
tersebut, maka kebutuhan biaya dan tenaga tersebut diatas dirasakan sebagai
beban yang berat, bukan sebagai konsekuensi dari adanya kebutuhan akan
informasi. Kalau informasi telah menjadi aset rumah sakit, maka beban
biaya untuk pengembangan, pemeliharaan maupun migrasi SIRS sudah selayaknya
masuk dalam kalkulasi biaya layanan kesehatan yang dapat diberikan oleh rumah
sakit itu.
Perlu disadari sepenuhnya, bahwa
penggunaan teknologi informasi dapat menyebabkan ketergantungan, dalam arti
sekali mengimplementasikan dan mengoperasionalkan SIRS, maka rumah sakit
tersebut selamanya terpaksa harus menggunakan teknologi informasi. Hal ini
disebabkan karena perubahan dari sistem yang terotomasi menjadi sistem manual
merupakan kejadian yang sangat tidak menguntungkan bagi rumah sakit tersebut.
Perangkat lunak SIRS siap pakai yang tersedia di pasaran pada saat ini sebagian
besar adalah perangkat lunak SIRS yang hanya mengelola sebagian system atau
beberapa subsistem dari SIRS. Untuk dapat memilih perangkat lunak SIRS siap
pakai dan perangkat keras yang akan digunakan, maka rumah sakit tersebut harus
sudah memiliki rancang bangun (desain) SIRS yang sesuai dengan kondisi dan
situasi rumah
K,
Manajemen informasi system/hospital
Bentuk paling sederhana teknologi informasi yang mungkin kita gunakan dalam
rumah sakit adalah MIS / MIH. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia telah
menggunakan teknologi ini untuk mengatur operasi rumah sakit secara baik &
effisien. Pada dasarnya teknologi yang digunakan adalah:
Database
Software.
Accounting
& Finance Software.
Jaringan
Komputer (LAN).
Bayangkan sekarang jika dimungkinkan nantinya
kerjasama antara rumah-rumah sakit & PUSKESMAS di sekitarnya. Perangkat
yang perlu dikembangkan nantinya adalah:
Electronic
Data Interchange (EDI).
Standarisasi
Informasi Medis (rumah sakit & PUSKESMAS) supaya transfer pasien dapat
dilakukan dengan smooth & cepat.
Wide Area
Network WAN connection & Internet sebagai basis hubungan jarak jauh.
L, Diskusi dan korrdinasi para medis
Sebetulnya
teknologi informasi & Internet menarik karena memudahkan untuk melakukan
koordinasi & diskusi. Akan ada beberapa tahapan diskusi / koordinasi yang
dapat kita kembangkan tergantung pada teknologi informasi yang digunakan,
tahapan tersebut adalah:
Diskusi / Koordinasi melalui E-mail.
Cara yang paling sederhana adalah mengintegrasikan jaringan yang ada dengan
teknologi TCP/IP & Internet. Server E-mail dapat dibangun dengan
menggunakan server Novell / Microsoft / UNIX FreeBSD.
Setup mailing list internal / external rumah sakit / puskesmas.
Ada baiknya para dokter / para-medis ikut dalam diskusi Internet tentang
kedokteran yang saat ini sudah cukup aktif yaitu:
dokter@itb.ac.id
cara subscribe dapat dilakukan secara mudah & otomatis dengan
mengirimkan mail ke:
kirim mail
ke majordomo@itb.ac.id
isi berita
subscribe dokter
Video
Conference
jika
dirasakan perlu untuk melihat gambar ada baiknya dilanjutkan perkembangan
tempat diskusi tersebut menggunakan fasilitas video conference.
Teknologi
CU-SeeMe & Microsoft NetMeeting dapat digunakan untuk keperluan tersebut.
Basis teknologi jaringan komputer yang digunakan adalah tetap TCP/IP &
Internet hanya akan membutuhkan reflector video conference & bandwidth yang
lebar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi computer (informasi) yang begitu pesat telah
merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan
medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi
teknologi komputer relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi
finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam
dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap
perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai
organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi
masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi
anggaran kesehatan maupun teknologi informasi komputer, rumah sakit rata-rata
hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa
teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia
untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi
informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen
informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat
(kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap
tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool
untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter
data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah
kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi
komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat.
Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat.
Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua
kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai
aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian
istimewa. Demikian Anis fuad dalam peran teknologi informasi untuk mendukung
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit
Hal-hal
penting dalam penggunaan teknologi informasi secara baik dan benar
·
Pengguna
Teknologi Informasi harus tahu secara jelas sekali apa yang diinginkan. Sering
sekali kita mendapatkan orang hanya ingin memasang jaringan komputer / IntraNet
tanpa tahu untuk apa IntraNet tersebut akan dipasang - contoh objective
misalnya: IntraNet akan digunakan untuk memberikan servis tambahan (misalnya
online payment, online diagnosis) diluar servis yang umumnya diberikan.
·
Pihak management
rumah sakit / PUSKESMAS harus menyadari bahwa teknologi informasi hanyalah alat
bantu. Operasi alat bantu ini sangat tergantung sekali pada kualitas SDM yang
ada di rumah sakit - siapa yang akan mengisi informasi? siapa yang akan
melakukan diagnosis? dll.
Teknologi informasi akan memudahkan kerjasama dengan berbagai fihak baik
membuka client ke rumah-rumah secara langsung, maupun ke PUSKESMAS sekitar
sekiranya pasien mereka membutuhkan bantuan secara cepat & interaktif.
Perangkat keras (baik input,
pemroses, penyimpan, maupun output), perangkat lunak serta infrastruktur,
ketiga-tiganya memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas maupun
efisiensi manajemen informasi kesehatan. Beberapa contoh penting yang akan
diulas adalah (1)rekam medis berbasis komputer, (2) teknologi penyimpan
portabel seperti smart card,(3) teknologi nirkabel dan (4) komputer genggam.
, jenis aplikasi serta pengalaman
yang berbeda-beda, namun secara umum ada kesamaan faktor yang faktor yang
menentukan keberhasilan mereka dalam menerapkan rekam medis berbasis komputer,
yaitu:
Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.
Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.
Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Leadership, komitmen dan visi organisasi
Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia.
Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.
Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan.
Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem.
Pengalaman di atas mengungkapkan bahwa penerapan IT untuk rekam medis
merupakan effort yang luar biasa yang tercermin mulai dari leadership pimpinan,
komitmen finansial dan SDM, tujuan organisasi, proses perancangan yang
melelahkan, networking antara tenaga medis, non medis dan informatik hingga
menjaga momentum.
Demikian juga model serupa
agar jadwal imunisasi bagi balita tidak terlambat. Investasi yang diperlukan
cukup dengan komputer yang telah diisi dengan database klinik pasien, nomer HP
serta rule mengenai penjadwalan imunisasi. Penerapan jaringan wireless saat ini
juga bukan investasi yang mahal. Dan masih seabreg inovasi lain yang dapat
dikembangkan.
Dari konteks teknologi informasi dan komunikasi, dapat dikatakan bahwa
pelbagai aplikasi sangat potensial sekali diterapkan di dunia medis. Akan
tetapi kita harus memperhatikan bahwa hingga saat ini secara kultural, dunia
medis, termasuk yang sudah menerapkan infrastruktur elektronik secara canggih
sebagian besar transaksi informasi klinis masih berjalan secara face to face.
Sehingga tidak salah bila ada yang mengatakan bahwa keberhasilan sistem
informasi di rumah sakit 90% merupakan masalah sosial kultural dan hanya 10%
saja yang merupakan masalah informatika.
Dengan demikian, komunitas
rekam medis akan memiliki wawasan yang luas mengenai prospek teknologi
informasi serta mampu menjembatani klinisi (pengguna dan penyedia utama
informasi kesehatan) dengan para ahli komputer (informatika) yang bertujuan
merancang desain aplikasi dan sistem agar dapat menghasilkan produk aplikasi
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit yang lebih efektif dan efisien.
Sistem
informasi rumah sakit tidak dapat lepas kaitannya dengan sistem informasi
kesehatan karena sistem ini merupakan aplikasi dari sistem informasi kesehatan
itu sendiri. Untuk itu, perlu kita mengetahui sedikit tentang sistem informasi
rumah sakit yang ada di Indonesia, mulai dari rancang bangun (desain) sistem
informasi rumah sakit hingga pengembangannya.
1. Rancang Bangun (desain) Sistem Informasi Rumah Sakit
2. Pengembangan
Sistem Informasi Rumah Sakit
Rancang
Bangun Rumah Sakit (SIRS), sangat bergantung kepada jenis dari rumah sakit
tersebut. Rumah sakit di Indonesia, berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi
2, sebagai berikut:
b. Rumah Sakit Swasta,
a. Rumah Sakit Pemerintah,
Sistem
Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer Based Hospital
Information System) memang sangat diperlukan untuk sebuah rumah sakit dalam era
globalisasi, namun untuk membangun sistem informasi yang terpadu memerlukan
tenaga dan biaya yang cukup besar. Kebutuhan akan tenaga dan biaya yang besar
tidak hanya dalam pengembangannya, namun juga dalam pemeliharaan SIRS maupun
dalam melakukan migrasi dari system yang lama pada sistem yang baru. Selama
manajemen rumah sakit belum menganggap bahwa informasi adalah merupakan aset
dari rumah sakit tersebut, maka kebutuhan biaya dan tenaga tersebut diatas
dirasakan sebagai beban yang berat, bukan sebagai konsekuensi dari adanya
kebutuhan akan informasi. Kalau informasi telah menjadi aset rumah sakit,
maka beban biaya untuk pengembangan, pemeliharaan maupun migrasi SIRS sudah
selayaknya masuk dalam kalkulasi biaya layanan kesehatan yang dapat diberikan
oleh rumah sakit itu.
Perlu disadari sepenuhnya, bahwa
penggunaan teknologi informasi dapat menyebabkan ketergantungan, dalam arti
sekali mengimplementasikan dan mengoperasionalkan SIRS, maka rumah sakit
tersebut selamanya terpaksa harus menggunakan teknologi informasi. Hal ini
disebabkan karena perubahan dari sistem yang terotomasi menjadi sistem manual
merupakan kejadian yang sangat tidak menguntungkan bagi rumah sakit tersebut.
Perangkat lunak SIRS siap pakai yang tersedia di pasaran pada saat ini sebagian
besar adalah perangkat lunak SIRS yang hanya mengelola sebagian system atau
beberapa subsistem dari SIRS. Untuk dapat memilih perangkat lunak SIRS siap
pakai dan perangkat keras yang akan digunakan, maka rumah sakit tersebut harus
sudah memiliki rancang bangun (desain) SIRS yang sesuai dengan kondisi dan
situasi rumah
Bentuk paling
sederhana teknologi informasi yang mungkin kita gunakan dalam rumah sakit
adalah MIS / MIH. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia telah menggunakan
teknologi ini untuk mengatur operasi rumah sakit secara baik & effisien. Pada
dasarnya teknologi yang digunakan adalah:
Database
Software.
Accounting
& Finance Software.
Jaringan
Komputer (LAN).
Bayangkan sekarang jika dimungkinkan nantinya
kerjasama antara rumah-rumah sakit & PUSKESMAS di sekitarnya. Perangkat
yang perlu dikembangkan nantinya adalah:
Electronic
Data Interchange (EDI).
Standarisasi
Informasi Medis (rumah sakit & PUSKESMAS) supaya transfer pasien dapat
dilakukan dengan smooth & cepat.
Wide Area
Network WAN connection & Internet sebagai basis hubungan jarak jauh.
Sebetulnya
teknologi informasi & Internet menarik karena memudahkan untuk melakukan
koordinasi & diskusi. Akan ada beberapa tahapan diskusi / koordinasi yang
dapat kita kembangkan tergantung pada teknologi informasi yang digunakan,
tahapan tersebut adalah:
o
Video Conference
o
Diskusi /
Koordinasi melalui E-mail.
B.
SARAN
Saran yang dapat saya tarik mengenai peran
teknologi informasi untuk mendukung
manajemen rumah sakit ialah sebaiknya para/orang-orang yang bersangkutan
dirumah sakit seperti dokter, perawatl
dan lain sebagainya ebih memperhatikan perkembangan teknologi yang berkembang
saat ini ... mengingat perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat
orang-orang yang tidak memperhatikan hal tersebut akan ketinggalan informasi. Dimana
teknologi informasi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat.
Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua
kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai
aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila
manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian
istimewa dan juga muncul berbagai program ataupun aplikasi yang dapat mendukung
diberbagai sektor-sektor.. yang akhirnya dapat mempermudah pekerjaan secara
efektif dan efisien
DAFTAR PUSTAKA
Yuniar nani, prinsip administrasi kebijakan
kesehatan,hand out,2011,kendari.
Azwar, A.1980.pengantar administrasi kesehatan. PT.
Binarupa Aksara.Jakarta.
Shortliffe, E.H,1995, Medical informatics meet medical education. (URL http://www-camis.stanford.edu/projects/smi-web/academics/jama-pulse.html),30-10-2012.
Shortliffe EH, Perreault, L.E., Wiederhold G, Fagan, L.M., eds. Medical Informatics: Computer Application in Health Care. Reading, MA: Addison-Wesley; 1990
Greenes R.A., Shortliffe E.H. Medical informatics: An emerging academic discipline and institutional priority. JAMA 1990; 263:1115-1120
Cimino, JJ. Linking Patient Information Systems to Bibliographic Resources. Meth Inform Res 1996; 35:122-6
Shortliffe, E.H,1995, Medical informatics meet medical education. (URL http://www-camis.stanford.edu/projects/smi-web/academics/jama-pulse.html),30-10-2012.
Shortliffe EH, Perreault, L.E., Wiederhold G, Fagan, L.M., eds. Medical Informatics: Computer Application in Health Care. Reading, MA: Addison-Wesley; 1990
Greenes R.A., Shortliffe E.H. Medical informatics: An emerging academic discipline and institutional priority. JAMA 1990; 263:1115-1120
Cimino, JJ. Linking Patient Information Systems to Bibliographic Resources. Meth Inform Res 1996; 35:122-6
Tang PC, Hammond WE. A progress report on computerbased patient records in
the United States. In Dick RS, Steen EB, Detmer DE (eds): The Computer-based
Patient Record: An Essential Technology for Healthcare, 2nd ed. Washington, DC,
National Academy Press, 1997, pp 1–20.
Doolan, DF, Bates DW, James, BC. The Use of Computers for Clinical Care: A Case Series of Advanced U.S. Sites. J Am Med Inform Assoc. 2003;10:94–107.
Coiera, E. Clarke, R. e-Consent: The Design and Implementation of Consumer Consent
Mechanisms in an Electronic Environment. J Am Med Inform Assoc. 2004;11:129–140.
Doolan, DF, Bates DW, James, BC. The Use of Computers for Clinical Care: A Case Series of Advanced U.S. Sites. J Am Med Inform Assoc. 2003;10:94–107.
Coiera, E. Clarke, R. e-Consent: The Design and Implementation of Consumer Consent
Mechanisms in an Electronic Environment. J Am Med Inform Assoc. 2004;11:129–140.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar